Laman

Selasa, 06 November 2012

SEJARAH PERUBAHAN BENTUK PELURU

 

Mengapa senapan harus memuntir pelurunya?

Sebutir peluru berputar terbang lebih jauh dan lebih terarah daripada peluru yang tidak berputar (spin). Dan jika olahraga favorit kita adalah sepak bola segala yang akan sya ceritakan tentang peluru yang berputar (spin) juga untuk operan bola berlintas spiral.

Kenyataan bahwa peluru atau bola sepak yang berputar melayang lebih jauh mungkin agak aneh, karena kita mungkin mengira bahwa jarak tempuh hanya bergantung pada energi dari bubuk mesiu atau dari kaki seorang penjaga gawang. Akan tetapi peluru dan bola harus terbang melalui udara, dan hambatan udara memainkan peran penting dalam menentukan lintasan peluru, entah ditembakkan dari sepucuk pistol, senapan mesin, meriam, atau dilontarkan menggunakan tangan.

Pertama bagaimana membuat peluru berputar
Di sepanjang bagian dalam laras sebuah senjata api terdapa alur-alur bentuk spiral yang disebut rifling. Sewaktu peluru bergerak mengikuti laras, alur-alur tadi menggoresnya, membuatnya terpilin mengikuti arah spiral. Ada senjata api yang spiralnya mengarah ke kanan, namun adal pula yang mengarah ke kiri, tetapi itu bukan masalah.

Peluru model lama terbuat dari timbal berbentuk bola seperti peluru meriam mini. Sedangkan peluru dengan bentuk seperti sekarang baru dikembangkan sekitar tahun 1825, ketika orang menemukan bahwa bentuk ini lebih baik dalam mempertahankan kecepatan geraknya. Itu karena untuk timbal dengan berat sama, peluru berujung runcing mengalami hambatan udara lebih sedikit ketimbang peluru berbentuk bola.
Akan tetapi peluru berujung runcing menghadapi masalah yang tidak dialami oleh perluru bola. Ketika peluru berbentuk runcing ditembakkan, ketidakteraturan sedikit saja pada permukaannyua dapat menganggap udara dan menggesernya ke samping, mak ujungnya tidak lagi mengarah lurus. Orientasi yang salah ini meningkatkan hambatan udara dari arah depan sehingga makin terpuntir. Tidak lama kemudian peluru tersebut akan jungkir balik, yang menyebabkan hambatan udara lebih besar, memperpendek jarak jelajah dan mengubah arah lintasannya. Jadi, baik jarah tempuh maupun ketepantan arah menjadi korban.

Itulah yang mendorong orang kemudian harus menemukan solusi, hingga ditemukanlah metode dengan rifling. Apabila peluru dipuntir dengan benar sepanjang sumbunya sewaktu terbang, berputar itu berfungsi mempertahankan orientasi dan arah lintasannya. Alasan pernyataan ini adalah benda berat yang berputarmemiliki momentum besar. Selain momentum di sepanjang arah geraknya (momentum linier), gerak berputar atau spin juga memberinya momentum rotasi, momentum putar, atau yang disebut dengan momentum sudut. Dan meomentum, entah linier atau rotasi, sangat sulit diganggu. Ketidak teraturan kecil pada permukaan peluru kini menjadi masalah remeh dibanding momentum sudut yang begitu besar.

Kembali ke senjata yang difungsikan untuk membunuh, hukum internasional memang mempersyarakatkan agar setiap peluru harus berputar. Alasan dibalik itu, karena peluru yang jungkir balik dapat menimbulkan luka terlalu melebar ketika mengenai korbannya dan mengakibatkan luka kerusakan yang lebih besar dibanding lubang rapi dan lurus yang ditimbulkan oleh peluru yang berputar.

Konvensi Jenewa masih mempunyai persyaratan lain yang terkesan ramah soal membunuh orang. Sebagai contoh, karena timbal lunak dan dapat berubah bentuk, logam itu dapat berantakan sewaktu menghantam sasarannya, ini pun menimbulkan lubang yang sangat tidak rapi. Oleh sebab itu peluru harus dibungkus dengan logam lain yang lebih keras, misalnya tembaga. Orang militer dengan senang hati mengiyakan persyaratan tersebut, bukan karena semangat belarasa kepada musuh, tetapi karena senjata serbu modern menembakkan peluru dengan kecepatan sedemikian tinggi sehingga jika tidak dibungkus dengan tembaga yang bertitik leleh tinggi timbalnya akan meleleh akibat gesekan dengan udara, yang terkahir ini berpengaruh buruk terhadap kecepatan dan arah terbang peluru. Bagaimanapun, lubang yang kecil dan rapi pada tubuh tentara musuh jauh lebih baik daripada tanpa lubang sama sekali.
Description: Cerita mengapa peluru tidak lagi bundar Rating: 4.5

1 komentar: